MAROS, TRISAKTINEWS.COM — Ada yang berbeda dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Jika selama ini dikenal sebagai pintu gerbang transportasi udara di kawasan timur Indonesia, kini bandara tersebut mulai menjelma menjadi pusat kolaborasi riset dan inovasi yang mempertemukan berbagai gagasan besar dalam satu ruang.
Transformasi ini mengemuka dalam gelaran Sultan Hasanuddin Forum on Research and Innovation (SHFRI) yang berlangsung di kawasan bandara, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Forum ini menjadi titik temu antara akademisi, pemerintah, pelaku industri, hingga komunitas dalam merancang masa depan berbasis ilmu pengetahuan.
General Manager Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Ruly Artha, menegaskan bahwa peran bandara tidak lagi sebatas tempat pesawat datang dan pergi. Lebih dari itu, bandara harus juga menjadi ruang terbuka yang mampu melahirkan ekosistem baru.
“Bandara bukan hanya untuk terbang, tetapi menciptakan ekosistem baru yang semakin terbuka. Kami menjalankan prinsip ABCDE – Activity Based on Collaborative, Decision and Ecosystem,” ujarnya.
Gagasan ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Maros. Bupati Maros, Dr. Andi Syafril Chaidir Syam, yang membuka forum tersebut, menyebut langkah ini sebagai terobosan penting dalam mendorong daerah menjadi bagian dari ekosistem pengetahuan.
“Ini langkah maju. Maros tidak hanya menjadi lokasi bandara, tetapi juga bagian dari ekosistem pengetahuan dan riset,” tuturnya.
Forum ini diinisiasi oleh Dewan Pendidikan Kabupaten Maros bersama Institut Bisnis dan Keuangan (IBK) Nitro. Ketua Panitia, Ismail Suardi Wekke, Ph.D, menjelaskan bahwa forum ini dirancang sebagai wadah kolaborasi lintas sektor untuk menghasilkan riset yang tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Forum ini menjadi katalisator penting bagi peneliti untuk menghadirkan solusi atas berbagai tantangan sosial,” ungkap Ismail.
Menariknya, forum ini juga menghadirkan perspektif internasional melalui kehadiran akademisi dari Jepang dan Malaysia, di antaranya Prof. Dr. Peter dari Tohoku University, serta Prof. Dr. Norzalita dan Dr. Roslan dari Universiti Kebangsaan Malaysia. Mereka membahas bagaimana riset dapat mendorong transformasi bandara menjadi airport city yang terintegrasi dengan pembangunan daerah dan ekosistem digital.
Ismail juga menekankan bahwa pengembangan inovasi tidak boleh lepas dari nilai-nilai lokal.
“Meskipun berbicara teknologi masa depan, pijakan kita tetap pada kearifan lokal. Inilah identitas riset kita di kancah global,” jelasnya.
Semangat kepahlawanan Sultan Hasanuddin pun diangkat sebagai inspirasi dalam membangun integritas ilmiah—bahwa riset bukan sekadar mengejar publikasi, tetapi bentuk pengabdian kepada bangsa.
Melalui pendekatan penta helix, yang melibatkan akademisi, bisnis, pemerintah, komunitas, dan media, forum ini diharapkan mampu melahirkan ekosistem inovasi yang berkelanjutan dan inklusif.
Ke depan, SHFRI direncanakan menjadi agenda rutin dengan berbagai tema strategis, mulai dari digitalisasi layanan publik, pengembangan UMKM berbasis bandara, hingga penguatan konsep airport city.
Dengan langkah ini, Bandara Sultan Hasanuddin tidak hanya menjadi tempat perjalanan dimulai, tetapi juga tempat lahirnya ide-ide besar untuk masa depan. (*)
Penulis : Iwan/Ril
Editor : Admin Redaksi








