Oleh : Oskar Daniel Frastin
TRISAKTINEWS.COM, – Dulu, kafe menjadi titik temu yang hangat bagi mahasiswa, pekerja lepas, hingga pasangan yang tengah dimabuk cinta. Aroma kopi arabika dan suara mesin espresso seolah bersahutan dengan tawa-tawa renyah para pengunjung. Mereka bercengkerama, mengobrol dan berdiskusi segala hal. Wajah-wajah sumringah beradu dengan dinding bata merah dihiasi ornamen rustik, lukisan-lukisan eksentrik dan suara musik jazz nan mengalun pelan. Di pojok kanan ruangan, seorang barista dengan apron coklat menyapa ramah setiap pengunjung yang datang.
Kini, yang tersisa hanya denting gelas dan barista dengan wajah letihnya. Meja-meja yang dulu menjadi tempat bercerita soal buku tentang mental healt, portofolio, dan rencana magang ke luar negeri, sekarang hanya menyuguhkan gumaman putus asa tentang lowongan kerja yang tak kunjung membalas.
Aku duduk menghadap jendela, melihat wajah-wajah muda yang lewat, menenteng CV seperti membawa bekal doa. Ada yang baru lulus, matanya masih berbinar. Ada yang baru saja di-PHK, matanya sembab walau bibir tetap menyunggingkan senyum palsu. Dunia ini terlalu kejam untuk jujur, dan terlalu sinis untuk peduli.
Di sela senyapnya kafe, aku teringat lirik Iwan Fals dalam “Sarjana Muda”:
“Engkau sarjana muda, resah mencari kerja…
Mengandalkan ijazahmu…
Empat tahun lamanya bergelut dengan buku,
Untuk jaminan masa depan…
Langkah kakimu terhenti
Di depan halaman sebuah jawatan…”
“Pekerjaan bukan sekadar mata pencaharian. Ia adalah salah satu cara manusia membangun harga dirinya.” Seloroh Erich Fromm.
Tapi bagaimana jika pekerjaan itu tak datang? Bagaimana jika yang datang malah auto-reply: “Terima kasih telah melamar, namun kami memilih kandidat lain”? Atau lebih getir lagi: tidak ada balasan sama sekali.
Pada 2024, lebih dari 1 juta pekerja di Indonesia kehilangan pekerjaan karena efisiensi perusahaan dan gelombang otomatisasi. Di tahun 2025, gelombang PHK terus berlanjut, terutama di sektor teknologi, manufaktur, dan startup digital. Banyak anak muda jadi korban pertama-bukan karena tidak kompeten, tapi karena dianggap paling “mudah dilepas”. (Sumber: Katadata, Detik, Kompas 2024-2025)
Di linimasa sosial media, hidup seakan tetap berjalan mulus: kopi yang difoto dari sudut estetik, caption motivasi, dan senyum yang entah ditarik dari mana. Tapi di balik layar, banyak yang menyembunyikan layar jobstreet yang dibuka tiap malam.
“Manusia modern bukan kehilangan Tuhan, ia kehilangan dirinya sendiri tapi tidak sadar.”
-Rollo May
Aku pernah jadi bagian dari mereka: yang pura-pura kuat, pura-pura produktif, padahal setiap malam dihantui rasa gagal dan takut jadi beban. Dan ternyata, aku tidak sendiri.
Kita adalah generasi yang dibesarkan untuk jadi luar biasa, dicekoki jargon-jargon tentang Indonesia Emas, tentang bonus demografi, tentang kejayaan-kejayaan nenek moyang dahulu kala. Tapi kenyataannya, kita hidup di dunia yang terlalu biasa untuk menerima kita.
Banyak anak muda menjalani hidup yang gamang. Mereka sekolah, kuliah, atau bekerja, tapi hati mereka hampa. Bukan karena mereka tak punya cita-cita. Tapi sistem yang semrawut-pendidikan mahal tapi tak relevan, pekerjaan langka atau tak manusiawi, dan sosial media yang menggiring harga diri ke angka “like” dan “followers” – membuat mereka pelan-pelan kehilangan harapan.
Martin Seligman menyebutnya learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari), ketika seseorang, setelah berulang kali mengalami kegagalan atau penolakan, akhirnya berhenti berusaha. Seolah berkata dalam hati, “Untuk apa? Toh tetap saja tak berhasil.” Ini bukan soal malas, tapi luka yang tak kasatmata. Semakin keras mereka mencoba, semakin mereka merasa ditertawakan oleh nasib.
Di sisi lain, mereka juga mengalami alienasi (keterasingan), sebagaimana dijelaskan Erich Fromm
keterasingan dari pekerjaan, dari lingkungan, bahkan dari diri sendiri. Dalam dunia yang serba cepat dan kompetitif, manusia dilihat bukan sebagai manusia, tapi sebagai fungsi. Anak muda tak merasa memiliki kendali atas hidupnya. Mereka mengisi CV, ikut pelatihan, melamar sana-sini, tapi tetap merasa kosong. Dunia seperti tak punya ruang untuk versi diri mereka yang otentik.
Dan di tengah itu semua, mereka bergulat dengan cognitive dissonance (ketidaksesuaian kognitif), sebagaimana dijelaskan Leon Festinger: benturan antara keyakinan dan realita. Mereka percaya bahwa kerja keras akan membawa kesuksesan, tapi yang mereka temui justru nepotisme, ketimpangan, dan aturan yang bias. Maka timbul rasa bersalah, bingung, bahkan marah pada diri sendiri. Padahal bukan salah mereka.
Lalu, apa jalan keluarnya?
Bukan lari dari sistem, tapi berdamai sambil menciptakan ruang kecil yang bisa dikendalikan. Logotherapy, yang digagas Frankl, menunjukkan bahwa kita bisa menemukan makna bahkan di tengah penderitaan-asal kita punya tujuan yang lebih besar dari diri sendiri. Mungkin bukan menyelamatkan dunia, tapi cukup menyirami satu tanaman, menemani satu teman yang sedang gelap, atau membuat satu karya kecil yang jujur. Bukan pencapaian besar, tapi keterlibatan bermakna.
Albert Camus, dalam absurditas-nya, justru menulis: “Satu-satunya pertanyaan filosofis yang benar-benar penting adalah: mengapa kita tidak bunuh diri?” Tapi justru dari situ ia mengajarkan, bahwa sadar akan absurditas hidup bukan berarti menyerah. Tapi menolak untuk berhenti. Menerima hidup tanpa kepastian, tapi tetap memilih untuk berbuat. Karena pemberontakan yang paling kuat adalah terus hidup secara sadar, meski tahu hidup tidak adil.
Jadi mungkin, hari-hari ini, yang disebut “bertahan” bukan lagi soal memenangi kompetisi. Tapi soal hadir. Di tengah kekacauan, hadir untuk diri sendiri. Bangun, menyeduh kopi, mengirim pesan ke teman, membaca satu halaman buku, atau sekadar menarik napas pelan. Lalu besok, mengulanginya lagi. Karena kadang, keteguhan sehari-hari jauh lebih revolusioner daripada teriakan besar yang cepat padam.
Anak muda hari ini sesungguhnya bukan pemalas. Mereka justru terlampau sadar bahwa kerja keras tidak menjamin apa-apa. Bukan karena tak mau kerja, tapi karena kadang pintu-pintu itu dikunci dari dalam oleh sistem yang menganggap mereka terlalu “baru”, terlalu “biasa”, atau terlalu “berisiko”.
“Yang paling menderita bukanlah mereka yang gagal. Tapi mereka yang tidak tahu untuk apa mereka bangun setiap pagi.”
– Viktor Frankl
Tapi dari reruntuhan, mungkin kita bisa membangun ulang dengan bentuk baru. Bukan dengan ambisi untuk kaya, tapi cukup. Bukan untuk jadi terkenal, tapi berguna. Bukan untuk menang, tapi untuk tetap hidup dengan utuh.
Ada pepatah bahwa kebijaksanaan tidak selalu muncul dari banyak tahu, tapi dari kesediaan untuk pelan-pelan memahami.
Karena jadi anak muda hari ini, tak cukup hanya kuat atau banyak tahu. Tapi juga harus waras. Dan kadang, satu-satunya kemenangan yang tersisa hanyalah: masih mau bangun pagi meski hari kemarin tidak baik-baik saja.
Penulis : Oskar Daniel Frastin, Mahasiswa Ilmu Hukum UNIASMAN
Editor : Admin Trisakti










