Kelas Sosial Berdasarkan Habitus

- Jurnalis

Kamis, 15 Januari 2026 - 20:17 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Aspiyandi, S.H

TRISAKTINEWS.COM — Kita lebih familiar dengan pembagian kelas sosial dalam masyarakat berdasarkan teori Karl Marx. Menurut Karl Marx, masyarakat terbagi ke dalam dua kelas sosial utama, terutama dalam sistem kapitalis:

Kaum Borjuis (Bourgeoisie), ini adalah kelas pemilik alat produksi: tanah, pabrik, modal, mesin, dan perusahaan. Dan Kaum Proletar (Proletariat), adalah kelas pekerja, yaitu orang-orang yang tidak memiliki alat produksi dan harus menjual tenaga kerjanya untuk bertahan hidup.

Sebenarnya ada juga pembagian kelas sosial menurut filsuf Prancis, yaitu Pierre Bourdieu, pembagian kelas sosial berdasarkan habitus.

Menurut Bourdieu, habitus adalah sistem disposisi yang bertahan lama dan bisa dialihpindahkan (transposable), struktur yang distrukturkan. Yaitu sebagai prinsip-prinsip yang melahirkan dan mengorganisasikan praktik-praktik dan representasi-representasi yang bisa diadaptasikan secara objektif kepada hasil-hasilnya tanpa mengandaikan suatu upaya sadar mencapai tujuan-tujuan tertentu atau penguasaan cepat atas cara dan operasi yang diperlukan untuk mencapainya.

Secara lebih sederhana, menurut Prof. Haryatmoko: habitus adalah kerangka penafsiran untuk memahami dan menilai realitas dan penghasil praktik-praktik kehidupan yang sesuai dengan struktur-struktur objektif. Habitus menjadi dasar kepribadian individu. Dengan demikian habitus adalah pandangan hidup (word view), nilai-nilai, gaya, dan sebagainya.

Dengan demikian, habitus adalah nilai-nilai sosial yang dihayati oleh manusia, dan tercipta melalui proses sosialisasi nilai-nilai yang berlangsung lama sehingga mengendap menjadi cara berpikir dan pola perilaku yang menetap di dalam diri manusia.

Dari habitus tersebut maka terjadilah apa yang menurut Haryatmoko, yaitu macam-macam habitus berdasarkan kelas sosialnya sebagai berikut:

Baca Juga :  Sejauh Mana Negara Mampu Menghentikan Krisis Ekologis?

1) Habitus Kelas Dominan

Kelas dominan ditandai dengan besarnya kepemilikan modal. Kelas ini mengakumulasi berbagai modal. Mereka menunjukkan perbedaannya untuk mengafirmasi identitas khasnya dan memaksakan pada semua dengan melegitimasi suatu visi tentang dunia sosial. Mereka juga mendefinisikan dan menentukan budaya yang sah.

Menurut struktur modal yang dimiliki, meliputi borjuasi lama seperti bos-bos perusahaan besar dan industri, borjuasi baru terdiri dari para eksekutif sektor swasta yang berasal dari sekolah-sekolah prestisius (modal ekonomi), para dosen, dan kaum intelektual (modal budaya).

2) Habitus Kelas Borjuasi Kecil

Kelas ini dianggap masuk dalam kelompok borjuasi karena memiliki kesamaan sifat dengan kaum borjuasi, yaitu keinginan untuk menaiki tangga sosial, tetapi mereka masuk ke dalam posisi kelas menengah dalam lingkup sosial. Yang termasuk kelas borjuasi kecil ini, yaitu karyawan, wiraswasta, atau pengusaha.

Praktik-praktik kehidupan kelas borjuasi kecil ini atau representasi kehidupan kelas ini sangat terarah dan dapat dijelaskan melalui keinginan untuk menaiki tangga sosial. Mereka sangat menonjolkan keinginan atau kehendak baik dalam hal budaya, meski mendasarkan pada peniruan terhadap budaya kelas dominan.

Jadi, yang dapat dimasukkan dalam kelas borjuasi kecil selain profesi di atas ialah pedagang, ahli pertukangan, eksekutif menengah pada perusahaan-perusahaan swasta, ahli teknik, guru, dan sebagainya.

Selain itu, ada juga yang disebut kelas borjuasi kecil baru, yaitu seniman, intelektual dan konsultan, termasuk di dalamnya para animator televisi, radio, dan sebagainya. Titik kesamaan mereka ialah berjuang untuk mengumpulkan status simbolis profesi mereka dan mengubah persepsi para pelaku yang lain.

Baca Juga :  Pidato Presiden Prabowo di Sidang PBB: Posisi Strategis Indonesia dalam Lingkaran Geopolitik Global

3) Habitus Kelas Populer

Kelas ini ditandai dengan tiadanya kepemilikan modal. Kelas ini hampir tidak memiliki keempat jenis modal. Nilai yang menyatukan kelas popular adalah sejumlah praktik dan representasi yang menemukan makna dalam keunggulan fisik dan penerimaan dominasi. Kelas popular ini ditempati oleh para buruh pabrik, buruh tani, dan pekerja dengan upah kecil.

Nah, Kelas Dominan inilah yang mengafirmasi identitas khasnya dan memaksakan pada semua dengan melegitimasi suatu visi tentang dunia sosial. Mereka juga mendefinisikan dan menentukan budaya yang sah, dengan melakukan kuasa simbolik baik dalam arena politik, ekonomi, seni, dan arena-arena lainnya.

Kuasa simbolik merupakan salah satu aspek penting dalam semua arena. Simbol-simbol, seperti bendera, lambang, slogan, dan gestur tubuh, memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku masyarakat. Kelas Dominan menggunakan simbol-simbol ini untuk membangun identitas, memicu emosi, dan menggalang dukungan. Penting untuk dipahami bahwa kuasa simbolik tidak selalu digunakan untuk tujuan yang baik. Simbol-simbol juga dapat digunakan untuk memanipulasi dan menipu masyarakat, serta untuk menyebarkan kebencian dan perpecahan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk kritis terhadap penggunaan simbol-simbol dan untuk tidak mudah terpengaruh oleh propaganda.

Penulis : Aspiyandi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Jeritan Nelayan Onepute: Limbah Nikel Cemari Sungai Laa, Hasil Tangkapan Nelayan Menurun Drastis”
Mentan Andi Amran Sulaiman Jadi Narasumber Rakernas XVII APKASI, Tekankan Hilirisasi Pertanian dan Pengawasan Pupuk Bersubsidi
Pastikan Warga Nyaman, Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Cek Langsung Layanan Publik
Wakil Bupati Bone Hadiri Rakernas XVII APKASI di Batam, Dorong Sinergi Pembangunan Daerah
67 Personel Brimob Polda Sulsel Jalani Misi Pencarian Pesawat ATR 42-500 di Pangkep
DPC PJI Bojonegoro Matangkan Program Kerja 2026 Melalui Rapat Kerja di Kedungadem
Diduga Korban Penganiayaan, Pria Tanpa Identitas Tewas di Wonokusumo Jaya
Polsek Driyorejo Amankan Pelaku Percobaan Pencurian dengan Kekerasan di Toko Sembako
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 20 Januari 2026 - 07:32 WITA

Jeritan Nelayan Onepute: Limbah Nikel Cemari Sungai Laa, Hasil Tangkapan Nelayan Menurun Drastis”

Senin, 19 Januari 2026 - 21:38 WITA

Mentan Andi Amran Sulaiman Jadi Narasumber Rakernas XVII APKASI, Tekankan Hilirisasi Pertanian dan Pengawasan Pupuk Bersubsidi

Senin, 19 Januari 2026 - 16:00 WITA

Pastikan Warga Nyaman, Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Cek Langsung Layanan Publik

Senin, 19 Januari 2026 - 00:26 WITA

Wakil Bupati Bone Hadiri Rakernas XVII APKASI di Batam, Dorong Sinergi Pembangunan Daerah

Minggu, 18 Januari 2026 - 23:07 WITA

67 Personel Brimob Polda Sulsel Jalani Misi Pencarian Pesawat ATR 42-500 di Pangkep

Berita Terbaru