MOROWALI UTARA, TRISAKTINEWS.COM, – Kondisi Sungai Laa di Desa One pute, Kecamatan Petasia Barat, Kabupaten Morowali Utara, kini memprihatinkan. Aliran sungai yang diduga tercemar limbah tambang nikel ini berdampak buruk bagi para pencari kerang sungai atau meti, yang mengeluhkan penurunan pendapatan hingga 50 persen.
Sebelum dugaan pencemaran terjadi, hasil tangkapan nelayan kerang tergolong mencukupi untuk kebutuhan rumah tangga. Rata-rata, satu perahu sampan yang dioperasikan oleh dua orang mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp500.000 per hari.
Namun, kondisi tersebut berubah drastis sejak air sungai berubah warna. Kepala Desa Onepute, Suhardin Sakaria, mengonfirmasi penurunan tajam hasil tangkapan warga tersebut.
“Setelah air Sungai Laa berubah warna menjadi kemerah-merahan dan cokelat yang diduga akibat limbah tambang nikel, hasil tangkapan kerang anjlok hingga 50 persen,” ujar Suhardin pada Rabu (14/01/2026).
Dampak ini juga merembet ke sektor hilir, yakni para pengrajin pengupas kulit kerang. Ibu Ratmi, salah satu pengupas kerang di Desa Onepute, mengaku penghasilannya kini jauh berkurang.
“Bagi kami pengupas kulit kerang, hasilnya sekarang sangat kecil. Meski begitu, tetap dijalani demi menambah pundi-pundi kebutuhan rumah tangga,” tuturnya saat ditemui media.
Selain persoalan air, masyarakat Desa Onepute juga mulai terganggu dengan polusi udara berupa debu dari aktivitas tambang bijih (ore) nikel.
Suhardin menjelaskan bahwa saat matahari terik dan angin kencang—terutama sekitar pukul 12.00 WITA—paparan debu tambang terbawa angin hingga masuk ke wilayah pemukiman warga.
“Kondisi ini sangat dikeluhkan warga. Selain air yang tercemar, debu tambang juga berimbas langsung ke Desa Onepute,” tutup Suhardin.
Editor : Admin Redaksi










