Menelisik Makna Idul Fitri, Jelang Hari Kemenangan

- Jurnalis

Selasa, 25 Maret 2025 - 23:23 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ismail Suardi Wekke (Cendekiawan Muslim Indonesia)

TRISAKTINEWS.COM – Malam-malam terakhir Ramadan selalu memiliki nuansa yang berbeda. Jalanan yang biasanya ramai, kini mulai lengang. Masjid-masjid pun tak lagi penuh sesak seperti di awal-awal Ramadan.

Suasana hening dan khusyuk menyelimuti, seolah alam pun turut merasakan kesedihan perpisahan dengan bulan suci ini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di balik kesedihan itu, tersimpan harapan dan kebahagiaan yang tak terhingga. Idul fitri, hari kemenangan, sebentar lagi tiba. Gema takbir mulai terdengar sayup-sayup, menggetarkan hati dan membangkitkan semangat.

Di setiap rumah, aroma kue kering dan masakan khas Lebaran mulai tercium, pertanda persiapan menyambut hari raya.

Bagi sebagian orang, Idul fitri adalah tentang baju baru, kue-kue lezat, dan berkumpul bersama keluarga. Namun, lebih dari itu, Idul fitri adalah tentang kemenangan atas diri sendiri. Sebulan penuh berpuasa, menahan lapar dan dahaga, serta mengendalikan hawa nafsu, adalah sebuah perjuangan.

Kini, saatnya bersiap merayakan kemenangan itu.

Idul fitri juga tentang kembali ke fitrah, kesucian. Setelah sebulan membersihkan hati dan jiwa, kita diharapkan kembali menjadi manusia yang lebih baik, lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih peduli terhadap sesama.

Baca Juga :  Ramadan dan Teknologi: Spiritualitas di Era Digital

Di hari yang fitri ini, kita saling memaafkan, melupakan kesalahan, dan membuka lembaran baru. Silaturahmi menjadi tradisi yang tak terpisahkan, mempererat tali persaudaraan dan memperkuat rasa kebersamaan.

Tak hanya itu, Idul fitri juga menjadi momen untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang kurang beruntung. Zakat fitrah yang ditunaikan menjadi bukti kepedulian kita terhadap sesama, memastikan bahwa semua orang dapat merasakan indahnya hari kemenangan.

Jelang Idul fitri, hati ini dipenuhi rasa syukur. Syukur atas kesempatan yang telah diberikan untuk menjalani Ramadan dengan penuh berkah. Syukur atas kekuatan dan kesabaran yang telah diberikan untuk melewati setiap ujian.

Semoga Idulfitri tahun ini membawa kedamaian, kebahagiaan, dan keberkahan bagi kita semua. Selamat menyambut hari kemenangan!

Menyambut Kemenangan: Refleksi Akhir Ramadan

Malam-malam terakhir Ramadan, suasana khusyuk dan hening menyelimuti. Masjid-masjid mulai lengang, jalanan pun tak lagi seramai awal Ramadan. Di balik kesedihan perpisahan dengan bulan suci, tersimpan harapan dan kebahagiaan menyambut Idulfitri, hari kemenangan. Gema takbir sayup-sayup mulai terdengar, membangkitkan semangat dan kerinduan.

Baca Juga :  STAI Rawa Aopa Gelar Wisuda, Resmi Bertransformasi Menjadi Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa

Idulfitri bukan sekadar tentang baju baru dan kue-kue lezat, tetapi tentang kemenangan atas diri sendiri. Sebulan penuh berpuasa, menahan lapar dan dahaga, serta mengendalikan hawa nafsu adalah perjuangan. Idulfitri adalah perayaan atas kemenangan itu, kemenangan atas ujian dan godaan.

Di hari yang fitri ini, kita kembali ke fitrah, kesucian. Setelah sebulan membersihkan hati dan jiwa, kita diharapkan menjadi manusia yang lebih baik, lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih peduli terhadap sesama. Silaturahmi menjadi tradisi yang tak terpisahkan, mempererat tali persaudaraan dan memperkuat rasa kebersamaan.

Idulfitri juga menjadi momen berbagi kebahagiaan dengan sesama, terutama mereka yang kurang beruntung. Zakat fitrah yang ditunaikan menjadi bukti kepedulian kita, memastikan semua orang dapat merasakan indahnya hari kemenangan.

Jelang Idul fitri, hati ini dipenuhi rasa syukur. Syukur atas kesempatan menjalani Ramadan, atas kekuatan dan kesabaran melewati ujian. Semoga Idulfitri tahun ini membawa kedamaian, kebahagiaan, dan keberkahan bagi kita semua. Selamat menyambut hari kemenangan!

Berita Terkait

Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Tidak Mampu Memasak Harapan : Surat Terakhir dari Ngada
Kebebasan Individu dan Ruang Publik
Hantu Tan Malaka di Ruang Gema
Elegi Es Kue Jadul
Transformasi Panopticon: Hegemoni Kontrol Sosial dan Kekerasan Simbolik dalam Masyarakat Kontemporer
Potret Buram Dunia Kerja 2025: Saat CV Hanya Menjadi Tumpukan Doa
Broken Strings dan Wajah Lain Grooming
Kelas Sosial Berdasarkan Habitus
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 18:47 WITA

Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Tidak Mampu Memasak Harapan : Surat Terakhir dari Ngada

Selasa, 3 Februari 2026 - 05:36 WITA

Kebebasan Individu dan Ruang Publik

Senin, 2 Februari 2026 - 14:36 WITA

Hantu Tan Malaka di Ruang Gema

Rabu, 28 Januari 2026 - 20:56 WITA

Elegi Es Kue Jadul

Minggu, 18 Januari 2026 - 08:01 WITA

Transformasi Panopticon: Hegemoni Kontrol Sosial dan Kekerasan Simbolik dalam Masyarakat Kontemporer

Berita Terbaru