Laga di Bulan Suci: Sepak Bola dalam Ramadan

- Jurnalis

Jumat, 21 Maret 2025 - 20:09 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ismail Suardi Wekke (Cendekiawan Muslim Indonesia)

TRISAKTINEWS.COM – Sebagai penonton, ada perasaan campur aduk yang menyelimuti hati saat menyaksikan Timnas Indonesia bertanding di bulan Ramadan. Ada kebanggaan melihat para pemain berjuang dengan semangat juang yang tinggi.

Di setiap lari, tekel, dan umpan, terlihat dedikasi dan cinta mereka terhadap tanah air.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, kekalahan tetaplah kekalahan. Rasa kecewa tak bisa dipungkiri, apalagi melihat skor yang cukup telak. Ada yang menundukkan kepala, ada yang menghela napas panjang, ada pula yang menahan air mata.

Tetapi, di tengah kekecewaan itu, ada pula rasa hormat dan apresiasi terhadap perjuangan para pemain.

Bulan Ramadan mengajarkan kami untuk bersabar dan menerima takdir. Kami menyadari bahwa sepak bola adalah permainan, ada menang dan kalah.

Kekalahan ini bukan akhir dari segalanya, melainkan sebuah pelajaran berharga untuk menjadi lebih baik.

Di media sosial, kami tetap memberikan dukungan kepada Timnas. Tagar #GarudaTetapDiDada menggema, menunjukkan bahwa cinta kami tak akan pudar hanya karena sebuah kekalahan.

Kami percaya bahwa para pemain telah memberikan yang terbaik, dan kami akan terus mendukung mereka di masa depan.

Ada pula yang melihat kekalahan ini sebagai momen untuk introspeksi. Kami mempertanyakan strategi tim, performa pemain, dan persiapan yang telah dilakukan.

Baca Juga :  Perpisahan dengan Ramadan: Memaknai Kehilangan Kebaikan

Kami berharap, kekalahan ini menjadi cambuk bagi Timnas untuk berbenah, untuk meningkatkan kualitas permainan, dan untuk meraih prestasi yang lebih baik di masa depan.

Sebagai penonton, kami juga belajar untuk menghargai proses. Kami menyadari bahwa membangun tim yang kuat membutuhkan waktu dan kerja keras.

Kami akan terus mendukung Timnas, memberikan kritik yang membangun, dan berharap agar mereka bisa meraih kejayaan di masa depan.

Di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, kami berdoa agar Timnas Indonesia selalu diberikan kekuatan, kesehatan, dan kesuksesan. Semoga Allah SWT memberikan ampunan atas segala kesalahan, dan memberikan kemudahan dalam setiap langkah mereka.

Kami yakin, dengan semangat juang yang tinggi dan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia, Timnas akan mampu bangkit dan meraih prestasi yang membanggakan.

Ketika Si Kulit Bundar Menjadi Medium Spiritual

Sepak bola, lebih dari sekadar olahraga, telah lama menjadi bagian integral dari kehidupan manusia. Di balik gemuruh stadion dan sorak sorai penonton, tersembunyi dimensi spiritual yang seringkali luput dari perhatian.

Bagi sebagian orang, sepak bola bukan hanya tentang kemenangan dan kekalahan, melainkan juga tentang nilai-nilai luhur seperti kerja sama, persaudaraan, dan perjuangan.

Di lapangan hijau, batas-batas sosial dan budaya seolah melebur, menyatukan manusia dalam semangat kebersamaan.

Bagi para pemain, sepak bola dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan keyakinan dan spiritualitas mereka. Banyak pemain yang berdoa sebelum pertandingan, merayakan gol dengan sujud syukur, atau mengenakan atribut religius.

Baca Juga :  Ramadan dan Buka Puasa: Merayakan Bulan Suci ala Indonesia

Tindakan-tindakan ini menunjukkan bahwa sepak bola bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang jiwa. Di tengah tekanan dan persaingan, spiritualitas menjadi sumber kekuatan dan ketenangan bagi para pemain.

Para suporter pun tak kalah dalam mengekspresikan spiritualitas mereka. Di stadion, mereka menyanyikan lagu-lagu penyemangat, mengibarkan bendera, dan melakukan ritual-ritual tertentu.

Potret ini menciptakan atmosfer sakral yang menghubungkan mereka dengan tim kesayangan mereka. Bagi mereka, sepak bola adalah agama kedua, sebuah ritual kolektif yang memberikan makna dan identitas.

Namun, spiritualitas dalam sepak bola tidak selalu positif. Terkadang, fanatisme yang berlebihan dapat memicu kekerasan dan permusuhan. Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan antara semangat kompetisi dan nilai-nilai kemanusiaan.

Sepak bola harus menjadi sarana untuk mempererat persaudaraan, bukan untuk memecah belah.

Sepak bola, dengan segala kompleksitasnya, adalah cerminan dari kehidupan manusia. Di dalamnya, kita menemukan kegembiraan, kesedihan, harapan, dan kekecewaan.

Lebih dari itu, sepak bola juga dapat menjadi medium untuk mengekspresikan spiritualitas, baik bagi pemain maupun suporter. Dengan menjaga nilai-nilai luhur dan menghindari fanatisme yang berlebihan, sepak bola dapat menjadi sarana untuk membangun masyarakat yang lebih baik.

Berita Terkait

Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Tidak Mampu Memasak Harapan : Surat Terakhir dari Ngada
Kebebasan Individu dan Ruang Publik
Hantu Tan Malaka di Ruang Gema
Elegi Es Kue Jadul
Transformasi Panopticon: Hegemoni Kontrol Sosial dan Kekerasan Simbolik dalam Masyarakat Kontemporer
Potret Buram Dunia Kerja 2025: Saat CV Hanya Menjadi Tumpukan Doa
Broken Strings dan Wajah Lain Grooming
Kelas Sosial Berdasarkan Habitus
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 18:47 WITA

Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Tidak Mampu Memasak Harapan : Surat Terakhir dari Ngada

Selasa, 3 Februari 2026 - 05:36 WITA

Kebebasan Individu dan Ruang Publik

Senin, 2 Februari 2026 - 14:36 WITA

Hantu Tan Malaka di Ruang Gema

Rabu, 28 Januari 2026 - 20:56 WITA

Elegi Es Kue Jadul

Minggu, 18 Januari 2026 - 08:01 WITA

Transformasi Panopticon: Hegemoni Kontrol Sosial dan Kekerasan Simbolik dalam Masyarakat Kontemporer

Berita Terbaru