Nurani Rakyat Ditengah Bencana

- Jurnalis

Senin, 15 Desember 2025 - 13:23 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Aspi (Buruh PT.Indonesia Morowali Industrial Park) (PT.IMIP)

TRISAKTINEWS.COM — Di tengah krisis kepercayaan masyarakat terhadap pengurus negara, bencana Sumatera justru menyalakan seberkas harapan. Krisis kepercayaan masyarakat pada pengurus negara, tercermin dalam berbagai kecaman di media sosial. Pedas dan keras kecaman itu. Ketika pengurus negara gagap dan menyebut bencana hanya terjadi di media sosial, masyarakat sipil bergerak lebih cepat. Mengetuk hati nurani dan solidaritas untuk membela rasa untuk sesama.

Melalui gerakan rakyat membantu rakyat. Ferry Irwandi, seorang pemangaruh digital yang dikenal kritis terhadap pemerintah, berhasil menggalang dana lebih dari Rp 10 miliar melalui kolaborasi dengan platform Kitabisa.com. Ferry datang ke lokasi bencana, menyampaikan bantuan dan melaporkannya di media sosial.

Namun langkah empatik ini justru disindir oleh wakil rakyat bernama Endipat Wijaya (Partai Gerindra, Riau). Dalam rapat dengan Komisi I DPR, Endipat meminta Kementerian Komunikasi dan Digital lebih aktif mengaplifikasi informasi kerja pemerintah dalam penanganan bencana. Ia menyinggung bagaimana kerja relawan kerap lebih viral dibandingkan upaya pemerintah. “Ada orang yang hanya datang sekali, seolah-olah paling banyak bekerja di Aceh,” ujar Endipat dalam rapat tersebut, Senin (8/12/2025).

“Orang-orang cuma nyumbang Rp10 miliar, negara sudah triliun-triliunan ke Aceh. Tapi yang viral justru yang kecil-kecil,” ujar Endipat.

Ucapan anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra menegaskan nilai kemanusiaan. Komentar itu menandakan krisis empati di antara elite politik. Mereka lebih sibuk membela wajah negara dibandingkan mendengarkan rakyat.

Belakangan Endipat mengatakan tidak bermaksud mencemooh Ferry.

Di sisi lain, wartawan Najwa Shihab hadir di lokasi bencana, melaporkan langsung dari tengah lumpur dan menyimpannya. Ia tidak sekedar menjadi reporter, tapi ikon empati publik.

Gaya Ferry dan Najwa melaporkan tentang tanah bencana lebih menyentuh sisi emosi masyarakat. Lebih orisinal daripada gambar menteri memanggul beras yang lebih bernuansa hyper-realitas atau jumpa pers pejabat yang kaku, kering, dan datar. Masyarakat sipil hadir dengan tindakan dan cerita yang menyentuh sisi emosional.

Dunia telah berubah. Demokrasi kantoran buruk pada era platformokrasi. Platform terjadi dimana kekuasaan digital kontemporer menggambarkan dominasi perusahaan teknologi dalam kehidupan politik, sosial, dan ekonomi. Platform bukan hanya alat komunikasi, tetapi struktur kekuasaan itu sendiri.

Baca Juga :  Pidato Presiden Prabowo di Sidang PBB: Posisi Strategis Indonesia dalam Lingkaran Geopolitik Global

Masyarakat Sipil
Dalam teori masyarakat sipil Robert Putnam (Making Democracy Work , 1993), kekuatan bangsa tidak diukur dari institusi negara, melainkan dari jaringan kepercayaan sosial dan solidaritas horizontal. Demokrasi hanya hidup bila ada modal sosial — simpul-simpul warga yang saling percaya dan bekerja bersama di luar struktur formal kekuasaan.

Dua abad sebelumnya, Alexis de Tocqueville, warga negara Perancis, dalam bukunya Democracy in America sudah menulis bahwa asosiasi warga adalah “sekolah demokrasi” tempat masyarakat belajar memimpin diri sendiri tanpa ketergantungan pada negara.

Apa yang terjadi hari ini di Sumatera adalah manifestasi teori itu: gerakan berbasis kepercayaan antarwarga (gerakan berbasis kepercayaan) yang lahir bukan dari partai, tapi dari hati nurani bersama.

Ini adalah koreksi halus terhadap demokrasi yang disfungsional ketika partai kehilangan fungsi representasi dan rakyat menemukan kembali kekuatan moralnya.

DPR, DPD seperti sedang mengalami disfungsi dalam mengartikulasi kepentingan rakyat. DPR tengah menerima tunjangan besar. Masyarakat sipil tetap bekerja.

Inisiatif masyarakat sipil menggalang dana untuk membantu sesama pun diperingatkan. “Harus izin kemensos,” ujar Menteri Sosial Saifullah Yusuf.

Masyarakat sipil telah berusaha. Aktivis lingkungan berteriak soal bahaya deforestasi tapi dijawab, “Sawit juga ada daunnya. Jangan takut deforestasi.” Aktivis berteriak-teriak menolak tambang, malah ditangkap polisi.

Kini? Laporan harian Kompas 12 Desember 2025: Hutan Sumatera Lenyap! Siapa yang bertanggung jawab? Kenapa DPR diam. Kenapa DPD juga diam. Kenapa DPRD juga diam saja.

Demokrasi Kehilangan Jiwa
Sementara rakyat bekerja, elite politik saling sindir. Ada bupati yang meminta agar Presiden Prabowo menjadi presiden seumur hidup. Tapi ada juga bupati yang meninggalkan rakyatnya. Wakil rakyat mencemooh kerja rakyat. Ada ketua umum partai yang menjadikan bencana sebagai panggung pencitraan. Partai yang seharusnya menjadi motor aspirasi rakyat kini menjadi pabrik politisi.

Kita menyaksikan apa yang disebut Colin Crouch (2004) sebagai post-demokrasi : demokrasi yang secara institusional masih hidup, namun ketakutan telah mati.
Negara tampak sibuk, tetapi kehilangan makna pelayanan publik. Partai tampak ramai, tapi kehilangan hati nurani.

Kiprah tokoh-tokoh muda seperti Ferry Irwandi, atau pemikir moral seperti Sukidi Mulyadi yang esai-esainya kerap viral dan menghentak, ahli hukum tata negara Bivitri Susanti, Zainal Arifin Mochtar, Ferry Amsari menunjukkan bahwa suara nurani bisa lebih kuat daripada suara partai. Pemikir-pemikir kritis itu diperlukan justru ketika parlemen terkesan sudah menjadi cabang kekuasaan dan ormas terbelah karena tambang.

Baca Juga :  Filantropi Berisik

Mereka sepantasnya diberikan wadah untuk mengartikulasi gagasan mereka agar tercipta check and balances, agar bangsa ini tidak menjadi bangsa “belajar kelompok” hanya mau mendengarkan yang mau mereka dengar. Mereka adalah agen penumbuh moral kembali rasa percaya publik di tengah lumpuhnya kepercayaan terhadap pengurus negara.

Inilah wajah baru warga politik: politik independen, yang bekerja untuk rakyat, bukan untuk partai. Mereka membuka saluran baru di luar sistem: politik yang lahir dari solidaritas, bukan struktur. Mereka bersuara dengan kekuatan argumentasi, bukan sekedar clometan.

Politik yang Berhati
Sudah saatnya DPR membuka ruang bagi calon legislatif independen, agar representasi tidak dimonopoli oleh partai. Revisi UU Partai politik atau UU Pemilu perlu membuka ruang bagi calon independen yang mempunyai networking yang riil, kemampuan mengartikulasi gagasan dengan baik dan keberpihakan pada rakyat yang jelas dan tegas, untuk menjadi anggota DPR independen.

Partai membutuhkan perombakan total karena partai politik telah bertransformasi menjadi kartel politik untuk menguasai sumber daya negara. Dalam demokrasi yang dewasa, keterlibatan warga tidak boleh dibatasi oleh struktur partai, karena inti politik bukanlah kekuasaan melainkan pelayanan.

Negara perlu belajar dari masyarakat sipil:
1.Restorasi kepercayaan masyarakat hanya bisa lahir dari tindakan nyata, bukan retorika.
2.Kebijakan tanggap bencana harus berbasis tata kelola kolaboratif — melibatkan masyarakat sipil, independen media, dan lembaga sosial.
3.Pendidikan kewargaan perlu digalakkan kembali, agar solidaritas warga menjadi energi politik, bukan sekedar emosi sesaat.

Ketika negara sibuk mengatur panggung, masyarakat sipil menyalakan lilin. Ketika kekuasaan kehilangan empati, rakyat menunjukkan makna keadilan. Ferry Irwandi, Najwa Shihab, Sukidi Mulyadi, mereka bukan pejabat, tapi mereka mewakili negara dalam arti yang paling luhur: melindungi dan memulihkan sesama.

Barangkali, inilah tanda zaman. Ketika politik kehilangan hati nurani, maka hati nurani rakyatlah yang memulihkan politik.

Berita Terkait

Jeritan Nelayan Onepute: Limbah Nikel Cemari Sungai Laa, Hasil Tangkapan Nelayan Menurun Drastis”
Mentan Andi Amran Sulaiman Jadi Narasumber Rakernas XVII APKASI, Tekankan Hilirisasi Pertanian dan Pengawasan Pupuk Bersubsidi
Pastikan Warga Nyaman, Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Cek Langsung Layanan Publik
Wakil Bupati Bone Hadiri Rakernas XVII APKASI di Batam, Dorong Sinergi Pembangunan Daerah
67 Personel Brimob Polda Sulsel Jalani Misi Pencarian Pesawat ATR 42-500 di Pangkep
DPC PJI Bojonegoro Matangkan Program Kerja 2026 Melalui Rapat Kerja di Kedungadem
Diduga Korban Penganiayaan, Pria Tanpa Identitas Tewas di Wonokusumo Jaya
Polsek Driyorejo Amankan Pelaku Percobaan Pencurian dengan Kekerasan di Toko Sembako
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 20 Januari 2026 - 07:32 WITA

Jeritan Nelayan Onepute: Limbah Nikel Cemari Sungai Laa, Hasil Tangkapan Nelayan Menurun Drastis”

Senin, 19 Januari 2026 - 21:38 WITA

Mentan Andi Amran Sulaiman Jadi Narasumber Rakernas XVII APKASI, Tekankan Hilirisasi Pertanian dan Pengawasan Pupuk Bersubsidi

Senin, 19 Januari 2026 - 16:00 WITA

Pastikan Warga Nyaman, Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Cek Langsung Layanan Publik

Senin, 19 Januari 2026 - 00:26 WITA

Wakil Bupati Bone Hadiri Rakernas XVII APKASI di Batam, Dorong Sinergi Pembangunan Daerah

Minggu, 18 Januari 2026 - 23:07 WITA

67 Personel Brimob Polda Sulsel Jalani Misi Pencarian Pesawat ATR 42-500 di Pangkep

Berita Terbaru